Tugas Istima’ untuk hari Rabu 30-1-2013

Januari 29, 2013 Tinggalkan komentar

Dengarkan dengan seksama tiga percakapan berikut. Kemudian jawab pertanyaan di bawah ini.

Mp3 bisa didownload di sini

PERCAKAPAN I

  1. Apa hobi Syarif? Sebutkan.
  2. Apa bacaan kesukaan Syarif?
  3. Apakah Syarif di rumah punya perpustakaan?
  4. Berapa jam Syarif membaca dalam sehari?

PERCAKAPAN II

  1. Tuliskan kosa kata baru yang terdapat pada percakapan ini.
  2. Setiap orang bersiap untuk menceritakan kembali percakapan III.
  3. Setiap orang bersiap untuk ditanya secara lisan satu persatu.

PERCAKAPAN III

  1. Sebutkan macam-macam kelompok hobi dalam percakapan ini. Tulis dalam bahasa Arab beserta artinya.

CATATAN:

HARI RABU JAM KE 2 UTS, MATERI SESUAI DENGAN TUGAS YANG DIBERIKAN DAN MATERI YANG DIBAHAS DI KELAS…

SELAMAT BELAJAR J

Kategori:Materi

Tugas Istima’ untuk hari Senin 28-1-13

Januari 27, 2013 Tinggalkan komentar

Dengarkan dengan seksama tiga percakapan berikut.

Mp3 bisa didownload di sini

TUGAS

PERCAKAPAN I

  1. Berapa kali si Gemuk makan dalam sehari?
  2. Berapa kali si Kurus makan dalam sehari?
  3. Sebutkan macam-macam makanan yang mereka makan.
  4. Berapa berat badan si Gemuk?
  5. Berapa berat badan si Kurus?

PERCAKAPAN II

  1. Sebutkan jenis makanan yang terdapat pada percakapan ini.
  2. Sebutkan jenis minumam yang terdapat pada percakapan ini.
  3. Sebutkan jenis buah yang terdapat pada percakapan ini.

PERCAKAPAN III

  1. Tuliskan kosa kata baru yang terdapat pada percakapan ini.
  2. Setiap orang bersiap untuk menceritakan kembali percakapan III.
  3. Setiap orang bersiap untuk ditanya secara lisan satu persatu.
Kategori:Materi

Tugas Istima’ (2) — Rabu, 16-1-2013

Januari 16, 2013 Tinggalkan komentar

Dengarkan dengan seksama tiga percakapan yang terlampir, kemudian jawab pertanyaan dibawah ini.

File bisa di download DI SINI

PERCAKAPAN I:

  1. Siapa Ammar?
  2. Siapa nama ibu Ali (orang yang berbicara)?
  3. Apa pekerjaan Ibu Ali?
  4. Berapa saudara Ali?
  5. Apa pekerjaan saudara perempuan Ali?

PERCAKAPAN II:

  1. Apa yang diceritakan dalam percakapan ini?
  2. Siapa nama ayah Nabi Muhammad?
  3. Siapa nama kakek Nabi Muhammad?

PERCAKAPAN III: *

  1. Dengarkan dengan seksama percakapan ketiga.
  2. Catat mufrodat yang dikira perlu, kemudian cari terjemahnya dalam kamus atau menggunakan google translate.
  3. Setiap orang bersiap untuk menceritakan kembali percakapan ketiga.

CATATAN:

* Percakapan III tidak untuk dikumpulkan, tetapi untuk tes.

Jangan lupa, SENIN kuliah Pukul 08.00 TET..

Kategori:Materi

Bunyi Huruf dan Pengelompokannya

Januari 15, 2013 Tinggalkan komentar

File materi Bunyi Huruf dan Pengelompokannya dapat di download DI SINI

Kategori:Materi

Tugas 1 dan 2 Maharah Istima’ kelas C

Januari 15, 2013 Tinggalkan komentar

Berikut ini adalah file tugas istima’

File Mp3 bisa di download DI SINI

Tugas yang harus dikerjakan adalah sebagai berikut:

1. Siapa nama dua orang yang berbicara pada Percakapan 1?

2. Siapa nama dua orang yang berbicara pada percakapan 2?

3. Apa yang dibahas (dibicarakan) pada percakapan 3?

 

PERATURAN:

– Sama sekali tidak diperkenankan membuka Buku Arobiah Baina Yadaik🙂

– Tugas dikerjakan di kertas, boleh menggunakan bahasa Arab atau Bahasa Indonesia

– Untuk soal nomor 1 dan 2, nama orang ditulis dengan BAHASA ARAB

Kategori:Uncategorized

MATERI REMIDIAL PROGRAM PKPBA 2012

Januari 12, 2012 Tinggalkan komentar

Materi Kuliah Bisa didownload di sini

Kategori:Uncategorized

PEMAHAMAN KAFA’AH DALAM PERNIKAHAN

November 11, 2011 4 komentar

 PEMAHAMAN KAFA’AH DALAM PERNIKAHAN     

Oleh: Makhi Ulil Kirom

A.    ABSTRAK

Banyak hal yang dapat menjadi dasar terjadinya pernikahan. Cinta, sayang, ingin, perlu, mampu, adalah beberapa hal yang kerap alas an utama dua insane melangsungkan pernikahan.

Pernikahan merupakan sebuah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, karena hal itu merupakan kebutuhan biologis dan psikologis yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kasarnya, pernikahan merupakan runtutan dari hasrat seksualitas yang dimiliki manusia (eros).

Namun, terlepas dari berbagai alasan tersebut, islam menganjurkan beberapa syarat yang hendaknya dapat dipenuhi sebelum seseorang menjalani sebuah pernikahan. Bukan syarat adanya wali dan perangkat pernikahan lainnya, akan tetapi syarat kafa’ah atau kecocokan dan kesesuaian antara kedua insan yang berkasih dan juga keluarga.

Mengapa demikian, pada awalnya keduan insan ini adalah individu yang berbeda, kemudian ingin untuk disatukan dengan tatacara yang benar menurut syariat islam. Nah, kalimat ‘individu yang berbeda’ inilah yang kemudian menjadi disyaratkan adanya kafa’ah dalam sebuah pernikahan. Agar kelak terdapat kesesuaian, keseimbangan dan kesinambungan antara dua insan yang akan mengarungi kehidupan berdua.

 

B.     DEFINISI

Kafa’ah menurut bahasa berarti kesamaan atau kesetaraan. Dalam perkawinan, yang dimaksud dengan kufu’ yaitu laki-laki sebanding dengan calon istrinya, sama kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlaq, kekayaan dan keturunannya.

Secara definitif memang yang di tujukan dalam kafa’ah adalah kesesuaian seorang lelaki terhadap calon istrinya, lelaki yang memiliki hak untuk memilih. Sepertihalnya dalam madzhab Hanafi dikatakan bahwa kafa’ah hanya dipersyaratkan atas laki-laki, dan tidak atas wanita. Jadi seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita manapun yang ia sukai, meskipun budak atau pelayan. Akan tetapi dalam implementasinya, hal ini juga berlaku kebalikan. Seorang perempuan juga dapat memilih orang yang ‘sesuai’ dengan dirinya. Dalam kedudukan, akhlaq dan hal-hal lain dalam kesetaraan.

Secara sekilas mungkin hal ini menjadikan seolah-olah seseorang ‘terlalu idealis’ atau pilih-pilih. Memang benar itu pilih-pilih, tetapi bukan terlalu idealis. Karena, seseorang memilih pendamping hidup bukan hal yang dilakukan untuk waktu sekejap saja, melainkan dilakukan untuk sepanjang hidupnya, sehingga memilah dan memilih harus dilakukan terlebih dahulu agar tidak didapatkan penyesalan dikemudian hari.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam kafa’ah, diantaranya nasab, akhlaq, fisik dan agama. Dari hal-hal tersebut para ahli fiqih masih berselisih pendapat dalam  menjadikan kesemuanya sebagai unsur dari kafa’ah. Namun para ahli fiqih telah bersepakat bahwa agama termasuk dalam kafa’ah.

Secara rasional adalah hal yang wajar dan normal ketika seseorang mencari pendamping yang sesuai dengan dirinya — meskipun tidak dalam segala hal — begitupula dengan keluarganya. Itupun tidak boleh berlebihan sehingga terkesan memaksa. Karena Allah telah menyiapkan pada setiap manusia pasangan masing-masing yang sesuai, jika dia baik maka seseorang yang baik akan menjadi pendampingnya, dan juga sebaliknya.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ (النور : 26)

Yang perlu diingat, kafa’ah bukan syarat sahnya sebuah pernikahan, akan tetapi kafa’ah perlu menjadi pertimbangan bagi seseorang ketika dia henda melangsungkan pernikahan.

 

C.    DASAR HUKUM KAFA’AH

Pertimbangan kafaah dalam pernikahan disandarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh nabi berikut ini:

  1. Riwayat dari Ali ibn Abi Thalib ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya,

يا علي ثلاثة لاتؤخر الصلاة اذا اتت والجنازة اذا حضرة والايم اذا وجدت كفؤا

“Hai Ali, janganlah engkau mengakhirkan (menunda-nunda) tiga hal : sholat jika telah tiba waktunya, jenazah jika telah hadir (untuk segera diurus dan dikuburkan), dan anak perempuan yang siap menikah jika telah engkau dapatkan yang sekufu dengannya”.

  1. Riwayat dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

تخيروا لنطفكم فأنكحوا الا اكفاء وانكحوا اليهم

“Pilih-pilihlah untuk tempat tumpahnya nuthfah kalian (maksudnya isteri), dan nikahkanlah orang-orang yang sekufu”.

  1. Atsar dari Umar ibn Al-Khaththab ra. Beliau berkata, “Sungguh aku melarang dihalalkannya kemaluan para wanita yang terhormat nasabnya, kecuali dengan orang-orang yang sekufu”. [Fathul Qadiir J II hal. 417]
  2. Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah An-Anshori, bersabda Rasulullah saw:

ألا لايزوج النساء إلا الأولياء ولا يزوجن من غير الأكفاء

“Janganlah engkau menikahi wanita kecuali dengan izin walinya, dan janganlah engkau menikahinya kecuali dengan yang sekufu’.

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Rasulullah saw bersabda:

تخيروا لنطفكم ولا تضعوها في غير الأكفاء

“Pilihlah wanita sebagai wadah untuk menumpahkan nutfahmu, janganlah letakkan nutfahmu ke (rahim) wanita yang tidak sekufu’.

 

D.    TUJUAN

Dari beberapa hadits yang menjadi dasar hukum kafa’ah di atas dapat difahami bahwa tujuan utama kafa’ah ketenrtaman dan kelanggengan sebuah rumah tangga. Karena jika rumah tangga didasari dengan kesamaan persepsi, kekesuaian pandangan, dan saling pengertian, maka niscaya rumahtangga itu akan tentram, bahagia dan selalu dinaungi rahmat Allah swt.

Namun sebaliknya, jika rumah tangga sama sekali tidak didasari dengan kecocokan antar pasangan, maka kemelut dan permasalahan yang kelak akan selalu dihadapi.

Kebahagiaan adalah istilah umum yang selalu diidam-idamkan oleh tiap pasangan dalam kehidupan mereka, namun itu semua harus diawali dengan kafa’ah, kesesuaian, kecocokan dan kesinambungan antar pasangan, sehingga segala hal yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik, tanpa dibumbui dengan perbedaan yang besar diantara kedua insan.

 

E.     KESIMPULAN

Dari definisi, dasar hukum dan tujuan kafa’ah diatas dapat disimpulkan bahwa, segala yang dimaksudkan dengan adanya syariat kafa’ah adalah demi kebaikan bersama dan keutuhan sebuah jalinan pernikahan. Sehingga sudah selayaknya bagi kita untuk melaksanakan syariat tersebut, karena pada dasarnya kita semua sudah melakukannya, akan tetapi kesemuanya mayoritas bukan untuk kafa’ah, akan tetapi demi memenuhi keinginan dan hasrat pribadi.

Setiap orang ingin pendampingnya kelak adalah yang terbaik, sesuai dan cocok dengan dirinya, begitupula dengan keluarganya. Tapi dia tidak boleh lupa, bahwa dalam syariat ada kafa’ah yang menjadi tuntunan kita dalam mempersiapkan perjalanan rumah tangga.

Namun kita harus kembali meluruskan niat, bahwa pernikahan juga merupakan ibadah, jika partner kita dalam melakukan ibadah itu adalah orang yang kufu bagi kita, maka insya allah ibadah yang kita jalankan akan senantiasa mendapatkan curahan pahala dari Allah swt.

Akhirnya, semoga pilihan kita adalah pilihan terbaik Allah bagi kita, dan menjadikannya sebagai sarana ibadah kita untuk mendapatkan ridho-Nya. Karena, sebaik-baik usaha adalah usaha yang diiringi do’a dan kemudian tawakkal kepada-Nya.

— والله الموفق —

Kategori:Artikel